Di kedalaman Hutan Kencana, di mana sungai-sungai kecil merajut diri di antara akar-akar pohon raksasa, tersembunyi sebuah keajaiban yang tak banyak diketahui. Setiap kali sang mentari pamit undur diri, melukis langit dengan jingga dan ungu, hutan itu perlahan terlelap dalam tidur yang amat sangat nyenyak. Bukan tidur biasa, melainkan tidur di mana segalanya terasa membeku. Burung-burung lupa bersiul, dedaunan enggan menari, bahkan kunang-kunang pun lupa bagaimana caranya menyala. Suara angin seolah terhenti, dan bintang-bintang di atas sana meredup malu-malu, seakan takut mengganggu keheningan yang begitu dalam. Hutan Kencana menjadi sebuah lukisan sunyi, menunggu sentuhan magis untuk terbangun.
Namun, di antara keheningan itu, hiduplah seekor kunang-kunang kecil bernama Kinara. Ia selalu merasa ada yang hilang. Malam terasa hampa tanpa bisikan daun atau gemericik air. Suatu senja, saat Hutan Kencana mulai memejamkan mata, Kinara terbang melayang pelan, mencari-cari, hingga matanya menangkap sesuatu yang istimewa. Tersembunyi di bawah rimbunnya akar Pohon Cahaya, sebuah pohon paling tua di sana, bersemayamlah sebuah gendang kecil. Kulitnya terbuat dari anyaman akar dan permukaannya berkilau seperti cangkang kumbang, dihiasi ukiran daun-daun dan bintang-bintang kecil yang samar. Gendang itu tampak tua, namun memancarkan aura lembut yang aneh.
Ketika semburat terakhir cahaya senja menghilang dan kegelapan mulai merayap, Kinara menyaksikan keajaiban. Tanpa ada tangan yang memukulnya, gendang itu mulai berbunyi. Mulanya hanya sebuah detak pelan, "dum-dum..." seperti jantung hutan yang baru saja terbangun dari mimpi panjang. Lalu, iramanya mengalun lebih bersemangat, "dum-duduk-dum... dum-duduk-dum..." bergema lembut di antara pepohonan. Bunyinya tidak mengagetkan, melainkan membuai, meresap perlahan ke setiap serat daun, ke setiap akar yang tersembunyi, bahkan ke dalam aliran sungai yang beku. Udara malam yang tadinya berat, kini terasa bergetar, diisi oleh melodi yang menenangkan.
Seketika, Hutan Kencana pun mulai menggeliat. Daun-daun yang tadinya diam, kini berdesir lembut, seolah saling berbisik rahasia. Bunga-bunga yang tertutup rapat, satu per satu, perlahan membuka kelopaknya yang berwarna-warni, menebarkan wangi semerbak. Air sungai yang tadi membisu, kini kembali bergumam riang, memantulkan cahaya bulan yang mulai terang. Kunang-kunang di seluruh penjuru hutan, seolah baru teringat tugasnya, mulai menyalakan lentera-lentera kecil mereka, berpendaran indah di antara kegelapan. Burung hantu berkaok pelan, memanggil teman-temannya. Gendang ajaib itu terus berdentum, menjaga denyut kehidupan malam.
Melodi dari gendang ajaib itu bukan hanya membangunkan, melainkan juga mengisi malam dengan kegembiraan yang hening. Para serangga malam berdengung senang, melayang mengikuti irama. Tupai-tupai kecil menari-nari di dahan pohon, merasa hidup kembali. Setiap malam, gendang itu adalah jantung Hutan Kencana, memastikan bahwa meskipun dunia di luar terlelap, hutan ini tetap terjaga, penuh dengan keajaiban, bisikan, dan cahaya-cahaya kecil. Ia berbunyi hingga fajar menyingsing, lalu diam, menanti datangnya senja esok hari, siap untuk kembali menjaga mimpi-mimpi malam Hutan Kencana agar tak pernah padam.
