Kepingan Cahaya Bulan di Danau Sunyi
Dongeng AnakBaru

Kepingan Cahaya Bulan di Danau Sunyi

Di suatu malam yang damai, Bulan menyadari ada kepingan cahayanya yang menghilang. Setelah mencari ke seluruh penjuru langit, ia menemukan pantulan indahnya menari di danau desa.

3 mnt baca

Di suatu malam yang bening, ketika bintang-bintang berkelip seperti butiran intan di selendang hitam angkasa, Bulan Purnama tersenyum lembut di singgasana awannya. Cahayanya yang keperakan memandikan desa di bawah sana, menerangi pepohonan yang merunduk dan atap-atap rumah yang mengantuk dalam selimut keheningan. Namun, di balik senyumnya yang sempurna, Bulan merasakan sesuatu yang sedikit berbeda. Ada ruang kecil yang terasa kosong, seperti kepingan puzzle yang entah bagaimana terlepas dari tempatnya.

Bulan yang bijaksana, dengan kerlip mata perak, menelusuri setiap sudut cakrawala. Ia bertanya pada Awan-Awan yang melayang malas, "Apakah kalian melihat sepotong cahayaku yang terjatuh?" Awan-awan hanya menguap, menggelengkan kepala putih mereka. Ia berbisik pada Angin Malam yang berdesir pelan, "Apakah kau membawa kepingan sinarku entah ke mana?" Angin hanya menjawab dengan siulan lembut, membawa aroma melati yang basah oleh embun. Bulan mulai sedikit cemas, membayangkan kepingan cahayanya tersesat di kegelapan rimba atau tersembunyi di balik bukit yang tinggi.

Dengan perlahan, pandangan Bulan jatuh ke bawah, ke arah Bumi yang terlelap. Di tengah-tengah desa yang sunyi, di bawah rimbun pohon beringin tua, terhampar sebuah danau kecil, diam dan berkilauan, seperti mata biru bumi yang terbuka. Dan di sanalah, di jantung danau itu, Bulan melihatnya! Bukanlah kepingan yang patah atau hilang, melainkan pantulan utuhnya, bersinar sama terangnya, menari-nari di permukaan air yang tenang. Ribuan kunang-kunang kecil ikut menari di tepian, seolah merayakan kehadiran cahaya itu.

Hati Bulan berbinar-binar seperti kilau mutiara. Ternyata, kepingan cahayanya tidak hilang sama sekali. Ia justru telah menemukan rumah baru, sebuah tempat di mana ia bisa memancarkan keindahan dengan cara yang berbeda. Setiap gelombang kecil di danau memecah pantulan itu menjadi seribu keping cahaya yang menari, seolah danau itu sendiri adalah miniatur langit malam yang penuh bintang. Bulan tidak kehilangan apapun; ia justru telah membagi kecantikannya, membiarkan sebagian kecil dari sinarnya menari-nari di permukaan air, menciptakan cermin kembaran yang sama indahnya.

Sejak malam itu, setiap kali Bulan melihat ke danau, hatinya dipenuhi kehangatan. Ia tahu bahwa keindahannya tak hanya milik langit yang luas, tetapi juga terukir di kedalaman hati Bumi, menunggu untuk ditemukan dalam pantulan yang tenang. Dan anak-anak desa, ketika mereka melihat Bulan di langit dan pantulannya di danau, mereka tersenyum, seolah tahu bahwa Bulan telah membagi sebagian dari keajaibannya agar bisa lebih dekat dengan mereka.