Lagu Sunyi Kiki
Dongeng AnakBaru

Lagu Sunyi Kiki

Kiki, kambing kecil yang sedih karena tak bisa bernyanyi seperti teman-temannya, akhirnya menemukan suara istimewanya sendiri yang menenangkan dan seindah melodi alam.

3 mnt baca

Di sebuah padang rumput hijau yang terbentang luas seperti karpet beludru, hiduplah seekor kambing kecil bernama Kiki. Setiap pagi, saat embun masih bergelayut di ujung daun, teman-teman Kiki, Puti dan Mumu, akan memulai hari dengan nyanyian riang. Suara mereka melambung tinggi ke angkasa, 'Meee-meee-meee!' terdengar merdu seperti seruling bambu yang ditiup angin sepoi-sepoi. Kiki selalu mengagumi suara teman-temannya. Ia mencoba ikut bernyanyi, membuka mulutnya lebar-lebar, dan 'Miiip... meeeek!' Hanya suara kecil yang serak, kadang seperti decitan pintu yang engselnya berkarat, yang keluar dari tenggorokannya. Hati Kiki selalu terasa sedikit menciut setiap kali itu terjadi.

Kiki berlatih setiap hari, bersembunyi di balik semak-semak mawar liar, mencoba menirukan melodi teman-temannya. Ia memejamkan mata, membayangkan suaranya bisa seindah Puti yang melengking tinggi, atau semerdu Mumu yang bernada lembut. Namun, tak peduli seberapa keras ia berusaha, suara yang keluar tetaplah bukan nyanyian. Rasa sedih sering hinggap di hatinya, seperti kupu-kupu yang hinggap sebentar lalu terbang pergi, meninggalkan jejak kekosongan. Suatu sore, saat teman-temannya asyik bersahutan lagu, Kiki berjalan menjauh, kakinya melangkah pelan menuju pinggir hutan, mencari tempat yang sunyi untuk hatinya yang resah.

Kiki berhenti di dekat sungai kecil yang airnya jernih mengalir, memantulkan langit biru dan awan putih. Ia duduk di antara rerumputan tinggi, mendengarkan lagu alam: desiran daun yang ditiup angin, gemericik air, dan dengungan lebah yang terbang dari bunga ke bunga. Kiki menutup matanya, membiarkan semua suara itu masuk ke telinganya, meresap ke dalam hatinya. Tanpa sadar, ia mulai menggerakkan bibirnya. Bukan untuk bernyanyi, tapi untuk menirukan getaran sunyi di sekitarnya. Dari tenggorokannya, keluar sebuah suara 'Mmmm-hmmm-mmm' yang lembut, bergelombang seperti angin di atas padang rumput, dan kadang diselingi ketukan pelan dari kukunya yang menyentuh batu. Itu bukan nyanyian, tapi sebuah melodi yang menenangkan, melodi yang lahir dari keheningan dan keindahan alam.

Puti dan Mumu, yang menyadari Kiki tak ada di antara mereka, mulai mencarinya. Mereka mengikuti jejak kaki Kiki hingga ke tepi sungai. Di sana, mereka menemukan Kiki, matanya terpejam, tubuhnya bergoyang pelan mengikuti irama 'Mmmm-hmmm-mmm' yang begitu unik. Puti dan Mumu terdiam, terpesona. Mereka belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Saat Kiki membuka matanya, ia sedikit terkejut melihat teman-temannya. Dengan malu-malu, Kiki mencoba melanjutkan 'lagu sunyi'-nya. Kali ini, ia menambahkan ketukan ritmis dari kukunya pada batang kayu kering, menciptakan harmoni yang sederhana namun indah.

Puti dan Mumu tersenyum lebar. 'Suaramu indah sekali, Kiki!' kata Puti dengan mata berbinar. 'Ini berbeda, tapi sangat menenangkan,' tambah Mumu. Kiki merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Ia memang tidak bisa bernyanyi seperti mereka, tetapi ia memiliki 'lagu sunyi' yang bisa merangkai semua keindahan di sekelilingnya menjadi melodi. Sejak hari itu, padang rumput memiliki dua jenis musik: nyanyian riang Puti dan Mumu, serta melodi sunyi Kiki yang menenangkan. Kiki akhirnya tahu, setiap hati punya iramanya sendiri, dan setiap suara punya keistimewaannya yang tak tergantikan.