Langkah Kaki Pohon Purba
FantasiBaru

Langkah Kaki Pohon Purba

Di Hutan Lumut yang bergerak setiap malam, desa Anom tumbuh dengan rasa ingin tahu. Ketika pergerakan hutan mengancam sumber air mereka, seorang gadis muda bernama Kinar harus mengungkap rahasia langkah kaki pohon-pohon purba sebelum fajar menyingsing.

5 mnt baca

Di jantung Hutan Lumut, tempat kabut pagi tak pernah benar-benar lenyap, terhampar Desa Anom. Setiap malam, tanpa terasa, hutan raksasa itu beringsut, akarnya merayap di bawah tanah, dahan-dahannya melambai pelan seperti lengan raksasa yang bergerak. Dan setiap pagi, penduduk Anom akan terbangun di tempat yang sama sekali baru, dikelilingi pemandangan berbeda – kadang di tepi danau yang memantulkan langit ungu, kadang di antara bebatuan purba yang menjulang, kadang pula di padang bunga yang beraroma manis. Bagi Kinar, seorang gadis berumur dua belas tahun dengan mata setajam elang dan hati seberani singa, ini bukanlah misteri yang menakutkan, melainkan sebuah undangan petualangan abadi. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya menjelajahi batas-batas desa yang berpindah, memetakan perubahan, dan mendengarkan bisikan angin yang lewat.

Namun, pagi itu berbeda. Udara terasa tipis, dipenuhi debu dan desau angin yang menggerus. Kinar melangkah keluar dari rumah panggungnya, dan seketika napasnya tercekat. Desa Anom kini terdampar di bibir Jurang Angin, sebuah ngarai sunyi yang dikenal sebagai tanah gersang dan berbahaya. Bukan hanya itu, Mata Air Abadi, sumber kehidupan desa, kini jauh di belakang, tak terlihat di balik kanopi pohon yang rapat. Kepanikan mulai merambat di antara para warga. Para tetua berkumpul, wajah mereka keruh. "Hutan ini... ia semakin jauh dari rumah," gumam Nenek Pijar, salah satu tetua paling bijaksana, suaranya dipenuhi kekhawatiran. Kinar tahu. Sudah beberapa malam ini, pergerakan hutan terasa lebih cepat, lebih tak terduga, dan seolah-olah tanpa tujuan.

"Kita harus mencari Mata Air Abadi!" seru seorang warga. Namun, siapa yang berani menembus labirin akar dan dahan yang terus bergerak? Kinar merasa ada panggilan yang kuat. Ia yakin hutan ini tidak sengaja membahayakan mereka. Pasti ada alasannya. Diam-diam, ia menyelipkan bekal, lentera kecil, dan pisau saku ke dalam tas anyamnya. Saat kabut pagi masih tebal, menyembunyikan langkahnya, Kinar menyelinap ke dalam kedalaman Hutan Lumut. Ia mengikuti jejak-jejak lumut berpendar yang hanya terlihat oleh mata terlatih, suara gemerisik akar-akar yang beringsut di bawah tanah, dan bisikan dedaunan yang seolah-olah berbicara satu sama lain. Ia menemukan bahwa beberapa pohon tua memiliki aura yang berbeda, seolah mereka adalah jantung dari pergerakan ini.

Semakin dalam ia melangkah, Kinar menyadari pola aneh. Pohon-pohon Penuntun, beringin raksasa yang diyakini tertua di hutan, tampak gelisah. Kristal-kristal bercahaya yang biasanya terjalin di akar mereka redup, dan alih-alih memimpin dengan tenang, mereka tampak tersesat, seperti domba tanpa gembala. Kinar mendekati Pohon Penuntun yang paling besar, akarnya menjuntai seperti janggut purba. Ia mengamati bagaimana hutan itu seolah mencoba menarik diri dari Jurang Angin, tetapi Pohon Penuntun itu justru menariknya lebih dekat, seolah-olah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Saat ia menyentuh salah satu kristal yang redup, sebuah desisan lembut terdengar, seolah pohon itu kesakitan.

Dengan hati-hati, Kinar mengikuti aliran energi redup itu. Ia menemukan bahwa Pohon Penuntun raksasa itu, sang pemandu utama hutan, tengah sakit. Salah satu akarnya yang paling vital, yang dihiasi kristal biru terang, tampak layu dan terbelit kusut, seperti simpul yang tak bisa diurai. Kristal-kristalnya memudar, dan energinya bocor ke tanah gersang Jurang Angin, alih-alih mengalirkan kekuatan ke seluruh hutan. Inilah sebabnya hutan bergerak liar, mencoba mencari keseimbangan yang hilang, tanpa tahu arah. Kinar teringat cerita neneknya tentang Sari Embun, nektar ajaib yang konon bisa menyembuhkan tanaman purba. Namun, Sari Embun hanya bisa ditemukan di jantung Hutan Lumut yang paling murni, di tempat yang sangat rahasia, dan waktu terus berpacu menuju fajar.

Kinar tahu waktu semakin menipis. Jika hutan terus bergerak menuju Jurang Angin, Desa Anom akan musnah. Ia memanjat Pohon Penuntun yang sakit, menggunakan celah-celah di batangnya yang keriput. Di antara celah paling atas, tersembunyi sebuah rongga kecil. Di dalamnya, ia menemukan gumpalan lumut yang berpendar lembut, dan di tengahnya, setetes cairan keperakan berkilauan seperti bintang. Sari Embun! Dengan tangan gemetar, Kinar mengumpulkan nektar itu dan meneteskannya perlahan ke akar layu serta kristal yang redup. Seketika, kristal-kristal itu mulai bersinar kembali dengan cahaya yang lebih terang. Akar yang terbelit melonggar, dan seluruh Pohon Penuntun menghela napas panjang, seolah terbangun dari mimpi buruk.

Energi baru merambat cepat ke seluruh hutan. Kinar merasakan getaran di bawah kakinya, kali ini terasa tenang dan terarah. Ia turun dari pohon, kelelahan tetapi puas, tepat saat semburat merah pertama muncul di ufuk timur. Ketika fajar menyingsing sepenuhnya, desa Anom terbangun. Bukan di bibir Jurang Angin yang berbahaya, melainkan di lembah hijau yang baru, di mana sebuah mata air kecil kini memancar jernih dari balik bebatuan, mengalirkan kehidupan baru. Mata Air Abadi yang baru. Kinar tidak menceritakan semua detail petualangannya, tetapi senyum di bibirnya dan binar di matanya adalah bukti yang cukup. Sejak saat itu, pergerakan Hutan Lumut kembali tenang dan terarah, dan Kinar tahu, rahasia langkah kaki pohon-pohon purba kini ia simpan di dalam hatinya, sebuah janji antara dirinya dan hutan yang hidup.