Jari-jari Rafi bergetar saat mencabut gulungan tua dari balik tumpukan buku di lemari kakek. Pita merah yang mengikatnya sudah rapuh, nyaris putus seiring dengan hembusan debu yang mengambang di cahaya jendela kamar di Surabaya itu. 'Jangan diambil sembarangan!' tegur Kakek Hendra dari tempat tidurnya, suaranya masih tegas meski tubuhnya terlihat semakin kurus dari hari ke hari. Rafi berhenti sejenak, melirik kakeknya yang terbaring dengan bantal tinggi di bawah selimut batik warna coklat. Umur 76 tahun dan kondisinya memburuk—itu yang dibicarakan orang tua Rafi saat mereka pikir Rafi tidur. Tapi Rafi tidak bisa menahan rasa penasaran. Peta di tangannya terasa seperti sesuatu yang penting, sesuatu yang tersembunyi dengan sengaja. Kakek Hendra memperhatikan cucu bungsunya itu—anak laki-laki berusia 15 tahun dengan rambut hitam yang berantakan dan mata yang selalu berbinar—kemudian menghela napas panjang. Mungkin sudah saatnya.
Rafi membuka gulungan dengan hati-hati. Kertas peta berukir besar itu menampilkan garis-garis yang agak luntur, tulisan tangan yang sulit dibaca di tepi-tepinya. Ada simbol-simbol aneh: tanda silang, garis melengkung yang pasti menunjukkan gunung atau lembah, dan sebuah lingkaran besar di bagian tenggara yang diberi keterangan dengan tinta merah yang sudah pudar. 'Apa ini, Kek?' tanya Rafi, berlutut di samping tempat tidur kakeknya. Kakek Hendra tersenyum—senyum yang mengandung banyak cerita yang belum diceritakan. 'Itu adalah peta petualangan terakhirku, Nak. Dari masa hidupku yang paling seru. Aku sudah menyimpannya selama lebih dari empat puluh tahun, menunggu orang yang tepat untuk menemukannya.' Rafi membaca tulisan di sudut peta yang bisa dibaca: 'Bromo 1982—Harta Sejati.' Tangannya bergetar. Kakek Hendra pernah mengisahkan banyak cerita tentang petualangan muda, tapi tidak pernah sedetail ini.
Dua hari kemudian, saat Rafi dan ibunya keluar dari ruang pemeriksaan di rumah sakit, kata-kata dokter masih terngiang di telinga Rafi seperti gema di gua yang dalam. 'Kondisi jantung Kakek sudah sangat lemah,' dokter itu berkata dengan nada yang mencoba tetap profesional namun tak bisa menyembunyikan kesedihan. 'Kami sarankan keluarga mulai mempersiapkan diri. Kami tidak bisa memastikan berapa lama lagi.' Ibu Rafi hanya mengangguk, tangan kanannya memegang tas plastik berisi obat-obatan baru dengan gagang yang berkerut. Rafi hanya diam, matanya menatap lantai rumah sakit yang mengkilap. Di pikirannya hanya satu hal: peta kakek yang masih tergulung di atas lemari kamarnya, dan lingkaran merah yang menunjuk ke Bromo—Gunung Bromo yang pernah Rafi lihat dari jauh sekali saat liburan sekolah dulu, dengan puncaknya yang berkabut di tengah malam gelap.
Malam itu Rafi mengumpulkan dua sahabatnya: Dina yang tinggi dan pemberani, dengan rambut ikal yang selalu diikat tinggi dan senyum lebar yang menular, dan Ardi yang pendek tapi cepat berpikir, dengan kacamata tebal dan buku catatan yang selalu dibawanya. Mereka bertiga telah berteman sejak SD, melakukan segala hal bersama—dari mengendarai sepeda keliling kompleks sampai berhasil memenangkan kompetisi debat tingkat kota tahun lalu. Rafi menceritakan semuanya: peta kakeknya, kata-kata dokter, dan obsesinya yang tiba-tiba untuk menemukan apa yang tersembunyi di Bromo. 'Jadi kamu ingin kita pergi ke Bromo? Sekarang? Bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terletak di Probolinggo dan Pasuruan itu?' Ardi mengeluarkan ponselnya, sudah mulai mencari informasi. Dina, di sisi lain, langsung berdiri dengan antusias. 'Aku ikut. Tapi kita harus persiapan dengan baik. Bromo itu medan gunung yang serius, bukan ajang main-main. Cuacanya ekstrem, udaranya tipis, dan aku pernah dengar dari kakakku yang pernah mendaki kalau ada area-area yang sangat berbahaya jika tidak hati-hati,' katanya sambil menyilang tangan di depan dada. Rafi merasakan gelombang kehangatan melihat dukungan teman-temannya. Ini bukan hanya tentang kakeknya lagi. Ini tentang mereka bertiga, tentang petualangan terakhir mereka bersama sebelum masuk SMA dan hidup berubah total.
Mereka memulai persiapan di minggu-minggu berikutnya. Ardi meneliti setiap detail: Bromo bukan hanya gunung biasa, melainkan sistem gunung vulkanik aktif yang terletak di ketinggian sekitar 2.329 meter di atas permukaan laut. Ada Gunung Bromo yang paling terkenal, kemudian Gunung Batok, dan Gunung Semeru yang paling tinggi. Di antara gunung-gunung itu terbentang 'Lautan Pasir'—padang pasir seluas puluhan kilometer yang terlihat seperti lautan ketika dilihat dari puncak, dengan warna abu-abu keputihan yang menakjubkan saat matahari terbit. Medan itu akan menguji kekuatan fisik mereka. Dina mulai merencanakan rute dan perlengkapan: tenda, sleeping bag, perlengkapan pendakian, makanan kaleng, obat-obatan, dan yang paling penting—peta kakek Rafi yang sudah difoto dan diprint untuk referensi. Mereka berdiskusi panjang tentang apa yang sebenarnya dicari: 'Harta' yang dimaksud kakek Rafi bisa berupa benda fisik, bisa juga sesuatu yang lebih abstrak. Tapi satu hal yang jelas dari tulisan di peta: ada sesuatu yang tersembunyi di sana, dan kakek Rafi ingin cucu dan sahabat-sahabatnya itu menemukannya.
Pada hari keberangkatan mereka—akhir pekan ketika orang tua Rafi, Dina, dan Ardi berpikir mereka hanya pergi study tour ke Malang—Rafi menemui Kakek Hendra untuk berpamitan. Kakek duduk di kursi goyang di teras, menatap jalan yang ramai dengan kendaraan pagi. 'Kek, kami berangkat hari ini,' kata Rafi sambil memeluk kakeknya yang tubuhnya terasa rapuh seperti pohon yang sudah lapuk. Kakek Hendra tersenyum lembut, tangannya yang berkerut meraba punggung Rafi. 'Cari dengan hati, Nak. Cari dengan berani. Dan ingat—tidak semua harta itu bersifat emas atau berlian. Beberapa harta itu adalah pengetahuan, adalah cerita, dan adalah waktu yang kamu habiskan bersama orang-orang yang kamu cintai.' Rafi merasakan kesedihan yang dalam menembus hatinya. Dia tidak ingin membayangkan dunia tanpa kakeknya. Di pukul 6 pagi, bus bis yang mereka naiki mulai melaju dari terminal Bungurasih menuju Probolinggo, kota yang terletak sekitar 120 kilometer dari Surabaya. Di luar jendela bus, kota perlahan berganti dengan pemandangan desa, sawah hijau, dan di kejauhan—bayangan gelap Gunung Bromo yang puncaknya diselimuti kabut, seolah-olah menyembunyikan semua rahasia di dalamnya. Rafi, Dina, dan Ardi duduk berderet di kursi belakang, mata mereka tertuju pada pemandangan itu. Tiba-tiba Ardi bisik, 'Kalian lihat itu? Di tepi jalan?' Mereka melihat tiga orang berbusana hitam lengkap, dengan tas daypack yang besar, sedang berdiri sambil memperhatikan bis mereka yang lewat. Wajah mereka tidak terlihat jelas, tapi ada sesuatu yang mengerikan tentang cara mereka memandang. Dina merasakan dingin yang merambat di punggungnya. 'Siapa mereka?' bisiknya. Rafi tidak menjawab, tapi matanya terus mengikuti tiga orang itu sampai bis mereka hilang di balik tikungan. Perasaannya tiba-tiba berubah. Perjalanan yang tadinya hanya tentang mencari harta kakeknya, tiba-tiba terasa seperti misi yang jauh lebih berbahaya.