Penjaga Hati Gunung Api
FantasiBaru

Penjaga Hati Gunung Api

Di puncak gunung berapi yang sunyi, Aruna, seorang yatim piatu yang kesepian, tanpa sadar menjaga sebuah batu misterius yang menyimpan rahasia kuno. Namun, saat seorang pemburu artefak jahat mengincar 'batu' miliknya, Aruna harus menghadapi kebenaran yang akan mengubah takdirnya selamanya.

3 mnt baca

Aruna, anak yatim piatu berjiwa merdeka, menemukan kedamaian di puncak Gunung Naga Emas yang sunyi. Angin menggerus wajahnya, aroma belerang menyengat hidung, tapi Aruna tak pernah merasa sekesepian di bawah. Sejak kecil, ia diasuh oleh lereng-lereng curam dan gemuruh perut bumi yang tenang. Hartanya satu-satunya adalah sebuah 'batu' besar berwarna hitam legam, sehalus obsidian, yang ia temukan tersimpan di kawah yang sudah lama tak meletus. Batu itu selalu hangat, seolah menyimpan bara api abadi, dan Aruna sering memeluknya di malam hari, merasakan getaran halus yang menenangkan. Ia tak tahu namanya, tak tahu asalnya, hanya tahu bahwa batu itu adalah sahabat terbaiknya.

Setiap pagi, setelah minum air embun dan memetik buah beri liar, Aruna akan berbicara dengan batunya. "Pagi, Kawan," bisiknya, mengusap permukaan yang licin. Belakangan, Aruna mulai melihat retakan-retakan kecil seperti jaring laba-laba muncul di permukaan batu hitam itu, memancarkan cahaya keemasan yang samar. Ada pula dengungan lembut yang kadang terdengar, seperti melodi tersembunyi dari dalam bumi. Aruna mengira itu hanya keajaiban gunung, mungkin batunya menyerap energi bintang atau detak jantung Gunung Naga Emas yang purba. Ia tak menyadari bahwa retakan itu adalah garis takdir yang perlahan terkuak, dan dengungan itu adalah panggilan dari masa lalu yang tidur.

Suatu sore, ketika kabut tebal menyelimuti puncak, siluet asing tiba-tiba muncul di cakrawala. Langkahnya berat, aura keserakahannya terasa bahkan dari kejauhan. Garis, seorang Pemburu Artefak legendaris dengan mata tajam dan hati sebeku es, telah menemukan Aruna. Garis tahu persis apa yang dijaga oleh anak yatim piatu ini. "Serahkan artefak itu, Nak!" suaranya menggelegar, memecah kesunyian. Aruna segera memeluk 'batunya', nalurinya menjerit untuk melindungi. "Ini bukan artefak! Ini temanku!" pekiknya, berdiri tegak di depan Garis yang jauh lebih besar. Batu di pelukan Aruna bergetar hebat, retakan keemasan membesar, dan hawa panas memancar.

Garis tertawa sinis, "Teman? Itu adalah Telur Naga terakhir di Nusantara! Kekuatan yang akan mengubah dunia, atau menghancurkannya!" Ia menerjang, mencoba merebut. Aruna berjuang mati-matian, air matanya bercampur keringat dan debu belerang. Tiba-tiba, dengan gemuruh yang mengalahkan angin, batu itu meledak dalam semburan cahaya keemasan dan pecahan obsidian. Dari dalam kawah yang baru terbentuk, muncul sesosok makhluk bersayap! Seekor naga kecil dengan sisik sebiru langit malam dan mata semerah bara api, melengkingkan suara pertama yang membelah angkasa. Aruna terpaku, tak percaya. Ini bukan batu. Ini... bayi naga!

Naga kecil itu, yang bahkan belum bisa terbang, langsung mengenali Aruna sebagai pelindungnya. Ia mengeluarkan semburan api kecil yang cukup panas untuk mengusir Garis yang terkejut dan ketakutan. "Mustahil! Naga sudah punah!" raung Garis, sebelum akhirnya melarikan diri, bayangannya lenyap ditelan kabut. Aruna memandang makhluk mungil di hadapannya, kehangatan menjalari dadanya. Kesepiannya telah sirna, digantikan oleh ikatan yang tak terucapkan. Ia bukan lagi sekadar anak yatim piatu di puncak gunung. Ia adalah Penjaga Hati Gunung Api, kawan pertama seekor naga, dan permulaan dari sebuah petualangan yang jauh lebih besar dari sekadar impian. Angin laut membisikkan janji petualangan baru, dan Aruna, bersama sahabat bersayapnya, siap menyambutnya.