Jauh di dalam Hutan Bisikan, tempat pohon-pohon menjulang menyentuh langit dan sungai-sungai bernyanyi melodi purba, terbaring Gagak Rimba. Ia bukan sekadar bukit atau gunung, melainkan raksasa batu kolosal, berbalut lumut tebal dan dihiasi kristal-kristal yang berkilauan seperti bintang. Sejak ribuan tahun lalu, ia telah berada di sana, penjaga hutan yang paling sunyi, mendambakan satu hal di atas segalanya: tidur. Tidur yang dalam, panjang, dan tak terganggu, di mana ia bisa bermimpi tentang matahari terbit di atas pegunungan kuno dan tarian cahaya bulan di permukaan danau yang belum terjamah.
Namun, mimpi-mimpi Gagak Rimba selalu pecah berkeping-keping. Dari perkampungan Batu Rindang, di pinggir hutan, datanglah manusia. Mereka terpesona oleh batu-batu unik yang membentuk tubuh Gagak Rimba — ada yang memancarkan cahaya lembut di malam hari, ada yang berurat emas, ada pula yang berkilauan seperti permata. Penduduk desa percaya batu-batu itu memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan, atau sekadar indah untuk membangun rumah dan perhiasan. Dengan pahat dan martil, mereka tanpa henti mengikis tubuh raksasa itu, seolah ia hanyalah tambang tak berjiwa. Setiap ketukan, setiap retakan, mengirimkan getaran tajam ke dalam tidur Gagak Rimba, memaksanya untuk menggeliat, mengeluarkan geraman rendah yang membuat hutan bergetar.
Kesabaran Gagak Rimba, yang setua waktu itu sendiri, mulai menipis. Setiap kali ia terbangun karena sakit, ia akan membuka mata batunya yang sebesar danau, memancarkan cahaya redup yang cukup untuk menakuti para pencuri. Mereka akan lari terbirit-birit, tapi selalu kembali, kadang lebih berani dari sebelumnya. Di antara mereka, ada Laras, seorang gadis kecil dengan mata setajam elang dan hati selembut lumut. Tidak seperti yang lain, Laras tidak datang untuk mencuri. Ia datang untuk mengamati. Ia melihat bukan sekadar gunung batu, melainkan makhluk hidup yang sedih. Suatu siang, ia menyaksikan sekumpulan pria mencoba mencongkel batu berukuran besar yang memancarkan warna pelangi. Gagak Rimba mengerang, kali ini lebih keras, membuat tanah bergetar dan pohon-pohon menari panik. Dari matanya yang terbuka perlahan, Laras melihat bukan kemarahan, melainkan kesedihan purba yang tak terhingga.
Laras tidak lari. Ia justru mendekat, menerobos ketakutannya sendiri, dan berbicara kepada raksasa itu. “Mengapa mereka mengganggumu, Gagak Rimba?” bisiknya, suaranya kecil namun penuh keberanian. Gagak Rimba, dalam suara yang terdengar seperti derit bumi dan gemuruh batu, menjelaskan kelelahannya, keinginan sederhananya untuk tidur, untuk bermimpi. Ia tidak ingin menyakiti manusia, hanya ingin ditinggalkan dalam damai. Hati Laras mencelos. Ia merasakan beban kesedihan raksasa itu. Kembali ke desanya, ia mengumpulkan para tetua, menceritakan penderitaan Gagak Rimba, menjelaskan bahwa batu-batu itu bukan sekadar material, melainkan bagian dari tubuhnya, jiwanya. Ia menyampaikan pesan kedamaian dan kelelahan, bukan ancaman.
Kata-kata Laras, yang penuh ketulusan dan kebijaksanaan yang tak terduga untuk usianya, menyentuh hati para tetua. Mereka menyadari kekeliruan mereka. Bukan hanya rasa bersalah, tetapi juga rasa hormat yang mendalam terhadap penjaga hutan itu tumbuh di hati mereka. Sebuah keputusan bulat diambil: tempat peristirahatan Gagak Rimba dinyatakan suci, dan siapa pun dilarang keras mengambil batu darinya. Perlahan, keheningan kembali meliputi Hutan Bisikan. Gagak Rimba, merasakan ketidakhadiran alat-alat pengikis dan suara gaduh manusia, perlahan-lahan kembali terlelap. Lumut tumbuh lebih lebat di tubuh raksasanya, kristal-kristal berkilauan lebih terang, dan hutan bernyanyi sebuah lagu pengantar tidur, akhirnya membiarkan raksasa purba itu beristirahat, mimpinya dilindungi oleh hati seorang gadis kecil dan pemahaman yang ia bawa kepada bangsanya.
