Bagian 1

Malam Pengkhianatan

Pedang Kilan berkilau seperti air terjun beku di bawah cahaya bulan. Gerakan-gerakannya mengalir sempurna—Kuda-kuda Elang yang kokoh, Tusukan Lima Jari yang tajam, Pembungkam Angin yang suara-suaranya hilang dalam kesunyian malam. Musuhnya, seorang pendekar liar yang mencoba mengambil alih jalur perdagangan desa Kampung Sari, tidak memiliki kesempatan. Kilan berusia dua puluh lima tahun, puncak dari latihan dua puluh tahun di Perguruan Elang Emas. Setiap gerakannya adalah puisi dalam pembunuhan—tidak ada gerakan yang berlebihan, tidak ada energi yang terbuang. Pemuda itu menyerah setelah lima belas sapuan pertukaran pedang, berlutut dengan wajah pucat, tangannya gemetar. Kilan menurunkan pedangnya dan menarik napas panjang. "Pergi," kata Kilan, suaranya tenang seperti salju yang jatuh. "Beritahu juragan bicaramu bahwa jalan ini dilindungi." Pendekar liar itu mengangguk tergesa dan berlari menghilang ke dalam kegelapan. Inilah kehidupan Kilan—pelindung desa, kehormatan Perguruan Elang Emas, dan favoritisme dari Guru Besar Hendra Saksono.

Kilan kembali ke Perguruan Elang Emas menjelang fajar. Bangunan-bangunan tradisional dengan atap melengkung dan tiang-tiang merah bertautan di sela bukit berbukit, terletak jauh dari keramaian kota. Pohon-pohon cemara tua menjaga gerbang, dan di halaman utama, patung elang emas setinggi manusia melambai sayapnya ke langit. Di tempat ini, Kilan menghabiskan seluruh hidupnya. Guru Besar Hendra Saksono mengambil Kilan ketika dia berusia lima tahun—seorang anak yatim dari keluarga yang tewas dalam bencana alam. Guru Besar mengatakan bahwa Kilan memiliki "qi yang tajam seperti elang muda," dan membiasakannya dengan kurnia keluarga perguruan. Kilan tidak pernah merasakan kehilangan akan orang tua biologisnya; Guru Besar adalah segalanya. Latihan pagi dimulai saat fajar merah melukis langit—bentuk-bentuk pedang dengan pemuda lainnya, meditasi untuk mengendalikan qi, renungan tentang Kode Kehormatan Elang Emas: "Pedang kami melindungi yang lemah. Hati kami tidak pernah mengkhianati. Kematian lebih mulia daripada kehinaan."

Namun pagi itu, sesuatu yang berbeda bergema di halaman perguruan. Diam-diam terlalu diam. Biasanya, suara latihan akan mengisi udara pada saat ini—klik-klik pedang, langkah-langkah kaki, pernapasan yang tersinkronisasi. Kilan memasuki ruang pelatihan utama dan menemukan kekosongan yang menyeramkan. Semua empat belas murid senior dan dua belas murid junior tidak terlihat. Pintu ke ruangan Guru Besar terbuka—hal yang tidak pernah terjadi kecuali dalam situasi darurat. Hati Kilan mempercepat detak. Dia berlari, kakinya hampir tidak menyentuh lantai, jurus Langkah Elang yang telah dia kuasai sejak usia sepuluh tahun membawanya dengan cepat. Tetapi saat dia mencapai pintu, dia berhenti tiba-tiba. Suara Guru Besar terdengar dari dalam—tetapi suaranya dingin, keras, sama sekali berbeda dari nada lembut yang telah mengajarinya selama dua puluh tahun.

"Perguruan ini akan segera menjadi milik Naga Merah. Jangan coba melawan," kata suara yang mengerikan. Kilan mengenali suara lain yang lebih dalam, bernada mengancam. "Guru Besar, Anda memiliki pilihan: hidup dengan masuk akal atau mati dengan mulia. Kami tidak menginginkan penderitaan yang tidak perlu." Guru Besar tertawa—suara yang patah-patah, dipenuhi dengan sesuatu yang terasa seperti keputusasaan. Kilan menekan punggungnya ke dinding, tangan mengepal di sekitar gagang pedangnya. Dia tidak memahami. Naga Merah? Organisasi legendaris yang disebutkan hanya dalam cerita horor untuk menakuti murid-murid junior? Mereka mengatakan bahwa Naga Merah adalah kumpulan pembunuh tanpa kehormatan, pendekar-pendekar yang telah menjual jiwa mereka untuk kekuatan. Mereka mengatakan bahwa asal-usul mereka hilang dalam mitos, dan tujuan mereka adalah menghancurkan keseimbangan kekuatan di dunia persilatan. Tetapi mereka di sini. Sekarang. Di rumahnya.

Kilan memasuki ruangan dengan pedang terangkat. Apa yang dia lihat membuat darahnya beku. Guru Besar Hendra Saksono berdiri di tengah ruangan, mengenakan jubah hitam-merah Naga Merah. Matanya kosong—bukan lagi matanya, tetapi mata seorang pria yang telah menyerahkan dirinya pada kegelapan. Di sekitarnya berdiri tiga puluh anggota Naga Merah dalam formasi pertempuran, pedang mereka bersinar dengan niat pembunuh. "Kilan," kata Guru Besar, suaranya seperti batu yang jatuh ke dalam sumur gelap. "Aku tahu kamu akan kembali. Aku telah menunggu saat ini." Sebelum Kilan dapat menjawab, Guru Besar mengangkat tangannya. Adalah sebuah sinyal. Dalam sekejap, para pembunuh Naga Merah bergerak menuju Kilan, dan jerit-jerit penderitaan dimulai terdengar dari seluruh komplek perguruan—suara keluarganya yang sedang dimusnahkan di lorong-lorong yang telah menjadi rumahnya selama dua puluh tahun.