Taring Emas di Bawah Air
Dongeng AnakBaru

Taring Emas di Bawah Air

Semua anak desa takut pada Mbah Gatot, buaya tua berparut yang katanya bisa menelan perahu sekali gigit. Tapi ada rahasia yang tersimpan rapat di bawah permukaan Sungai Kendaga.

3 mnt baca

Di tepi Sungai Kendaga, tumbuh cerita lebih lebat dari lumut di bebatuan. Orang-orang tua selalu berbisik kepada anak cucunya: 'Jangan main terlalu dekat air kalau sore sudah keemasan, karena Mbah Gatot sedang lapar.' Mbah Gatot adalah buaya tua sepanjang empat tombak, dengan punggung berparut seperti kulit pohon tua dan mata kuning yang bersinar di kegelapan. Setiap kali bayangan hitamnya meluncur di bawah permukaan sungai, seluruh desa menahan napas.

Padahal, jauh dari telinga orang dewasa, ada yang tahu kebenaran tentang Mbah Gatot — yaitu Yusuf, anak nelayan berusia delapan tahun yang tangannya selalu penuh lumpur sungai. Suatu sore ketika hujan baru berhenti dan air sungai berubah cokelat keruh, Yusuf melihat adiknya, Lastri yang baru lima tahun, terpeleset dari batu pijakan dan hanyut terbawa arus. Sebelum Yusuf sempat berteriak, muncul sesuatu yang besar dari dalam air — punggung hitam berparut itu naik perlahan, dan Lastri sudah duduk di atasnya, basah kuyup tapi selamat, dibawa dengan lembut ke tepi seperti sebuah perahu kecil yang tahu jalan pulang.

Yusuf tidak berteriak ketakutan. Ia malah duduk di akar pohon ketapang, menatap Mbah Gatot yang kini diam di tepi air, setengah tenggelam, hanya moncongnya yang menyembul. Dari balik gigi-gigi besarnya yang tampak menakutkan itu, ada sesuatu yang berbeda — seekor kuntul putih kecil bertengger santai di atas kepalanya, mematuk-matuk kutu dengan tenang. Binatang sekecil itu tidak akan berani mendekat kalau si buaya tua benar-benar berbahaya. Yusuf ingat semua cerita nenek tentang anak-anak yang 'hilang di sungai' tapi kemudian ditemukan selamat di tepian — selalu di tepian yang sama, selalu sore hari, selalu dengan rambut basah dan senyum bingung.

Sejak hari itu, Yusuf menaruh pisang matang di batu besar dekat pohon ketapang setiap pagi — bukan karena buaya makan pisang, tapi karena itu satu-satunya cara ia tahu untuk mengucapkan terima kasih. Dan setiap pagi, pisang itu selalu hilang dimakan kera atau tupai, sementara di permukaan air ada lingkaran kecil riak — seperti seseorang yang baru saja menyelam kembali ke kedalamannya. Mbah Gatot tidak pernah meminta dikenal sebagai pahlawan. Ia hanya tahu bahwa sungai milik semua orang, dan anak-anak yang hanyut belum saatnya pergi ke sana.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Yusuf sudah cukup tua untuk menceritakannya kepada anak-anaknya sendiri, ia tidak bilang 'jangan main dekat sungai karena Mbah Gatot berbahaya.' Ia berkata, 'Kalau kamu jatuh ke sungai dan ketakutan, jangan panik — karena yang paling dalam tahu jalan menuju yang paling aman.' Dan di bawah permukaan Sungai Kendaga, di antara akar-akar pohon dan batu berlumut, sepasang mata kuning berkedip pelan, lalu menghilang ke kedalaman yang tenang.