Jejak Dalam Debu

Bagian 1

Empat Benang yang Bersilangan

Bulan Mei 1945, dan Karangbaya masih percaya pada besok. Pagi itu Sutardi mengajar anak-anak huruf dan angka di rumah pinjaman di tepi Jalan Diponegoro, dengan papan tulis berukir dari kayu bekas dan kapur yang memang sudah setengah habis. Dia tidak keberatan. Empat tahun mengajar di sekolah formal sudah cukup membiarkan dia tahu apa yang diinginkannya: bukan jabatan, bukan rumah besar di kota besar, melainkan sekolah sendiri—sebuah tempat di mana anak-anak dusun seperti yang datang sekarang, anak-anak yang jika tidak datang ke ruangan ini akan tumbuh buta huruf di perkebunan, bisa membaca dan menulis nama mereka sendiri. Dia berusia dua puluh delapan tahun dan telah menabung selama empat tahun. Uangnya disimpan dalam kaleng tembaga besar yang dia gali dalam semak di belakang rumah induk nyonya. Cukup untuk membeli tanah di Bukit Sayap, tempat dia bisa membangun gedung kecil bercat putih. Istri dia masih menunggu di kampung, tetapi sudah sepakat; mereka akan datang bulan depan.

Saat Sutardi menulis 'B-A' di papan tulis, di jalan yang tidak jauh, Hasan Kemenyan membuka toko-nya dengan hati-hati. Tokonya sempit, hanya enam meter persegi, tetapi bau kemenyan Banjar yang mengepul dari jerigen kayu membuat tempat itu terasa istimewa—seperti tempat yang terpilih untuk berada di dunia. Hasan adalah laki-laki berusia empat puluh satu tahun dengan seorang istri, tiga anak, dan tanggungan kakak ipar yang buta. Dagangnya tidak menghasilkan kekayaan, tetapi mencukupi. Dia tahu berapa banyak uang yang masuk setiap hari, berapa banyak yang harus keluar untuk beras, untuk upah penjahit yang merawat pakaian istri dan anak-anaknya. Untuk kemenyan Banjar ini, orang-orang dari rumah-rumah bagus membeli—untuk dupa pagi, untuk tamu. Hasan membuka jerigen pertama tepat pukul tujuh pagi seperti setiap hari. Dia tidak pernah terlambat. Tidak pernah menutup lebih awal. Konsistensi, dia percaya, adalah satu-satunya bentuk janji yang bisa disimpan seorang pedagang kecil kepada dunia.

Di rumah sakit Karangbaya—rumah sakit Belanda yang sudah diambil alih, meski masih banyak yang memanggil nama lamanya—Siti mengenakan jas putihnya untuk hari pertama sebagai perawat tetap. Dia telah melewati ujian tiga bulan lalu dengan nilai tertinggi di antara lima kandidat. Umurnya dua puluh dua tahun, tanpa suami, dengan seorang ayah yang bekerja di pabrik pengolahan gula. Pekerjaan ini adalah mimpinya sejak dia membaca cerita tentang Florence Nightingale dalam majalah bekas yang dibaca kakak laki-lakinya yang sudah merantau ke Jakarta. Gaji tetapnya—cukup untuk menyimpan uang, untuk membantu ayahnya, untuk suatu hari membeli rumah kecil. Dia berdiri di depan cermin di kamar asrama yang sempit, mengatur tutup kepalanya dengan sempurna, melihat wajahnya sendiri dalam seragam putih itu, dan merasa seperti seseorang yang benar-benar menjadi diri sendiri untuk pertama kalinya. Hari pertama selalu penting. Dia tahu, dari cerita Florence Nightingale, bahwa perawat adalah jembatan antara kesakitan dan harapan.

Sedangkan di stasiun kereta Karangbaya, seorang pemuda bernama Budi turun dari gerbong dengan sebuah tas kapas yang berisikan semua yang dimilikinya. Dia berusia dua puluh lima tahun, dari desa kecil di Pegunungan Dieng, anak ketiga dari petani lahan sempit. Tidak ada tanah untuknya di sana—kedua kakaknya sudah mendapatkan bagian mereka. Ibunya telah memberi uang hasil panen rambutan untuk biaya perjalanan ke kota dan sedikit lebih banyak untuk bermula hidup baru. Budi memiliki tangan yang kuat dan catatan dari guru sekolah dasar berusia tiga puluh tahun yang mengatakan bahwa dia adalah murid cerdas dan dapat dipercaya. Di kantong celananya ada surat pengantar untuk seorang teman ayah yang bekerja di percetakan milik Belanda. Budi berharap dia bisa belajar mengoperasikan mesin cetak. Dia membayangkan dirinya bekerja dengan mesin, yang terasa seperti hal yang benar-benar modern dan berguna. Di pemandangan Karangbaya yang nyata, matahari baru saja terbit tinggi di atas para pedagang di pasar pagi. Setiap orang ada di tempat mereka. Setiap orang percaya pada hari yang akan datang setelah hari ini.

Sutardi pulang siang hari dan mampir ke warung makan Ibu Mina untuk memesan semangkuk nasi kuning—layanan istimewa untuk guru-guru. Dia bersama tiga anak lain yang menghadiri pelajarannya pagi itu. Mereka berbicara tentang ayah-ayah mereka yang bekerja di perkebunan, tentang kakak laki-laki yang bekerja di kota. Sutardi mendengarkan dan bercerita tentang sekolah yang akan dibangunnya. Satu anak, Bimo yang berusia sembilan tahun, bertanya: 'Pak guru, ketika sekolahnya sudah jadi, apakah saya harus membayar untuk masuk?' Pertanyaan itu menyentuh Sutardi. Dia menjawab, 'Tidak, Bimo. Setiap anak harus bisa membaca. Uang itu untuk apa?' Ibu Mina, pemilik warung, mendengar dan memberi Sutardi semangkuk tambahan gratis. 'Baik, pak,' katanya, 'orang seperti anda membutuhkan nafas yang panjang.'

Hasan menutup tokonya pada pukul lima sore tepat waktu. Hari itu dia menjual tujuh jerigen kemenyan Banjar, dan dia pergi ke rumah dengan perasaan yang stabil—tidak berlebihan bahagia, tetapi berkat. Di rumahnya, anak-anaknya sudah siap untuk makan malam. Istri-nya, Nuriah, telah memasak bubur ayam dari sisa ayam kemarin dengan campuran kunyit dan jahe yang akan membuat istimewa apa yang sebenarnya terbatas. Dia duduk bersama keluarganya dan makan dengan lambat, mencicipi setiap gigitan. Kakak iparnya, Karni yang buta, duduk di samping Nuriah dan Nuriah membimbing tangan Karni ke mangkuk. Ini adalah ritual yang sama setiap malam. Hasan pernah membayangkan kehidupan yang lebih besar, tetapi tidak lagi. Kehidupan ini—rutinitas, konsistensi, kepedulian kecil terhadap orang-orang yang bergantung padanya—adalah milinya, dan itu cukup.

Siti bekerja sampai pukul enam sore di rumah sakit itu. Dia telah mengubah tempat tidur enam pasien, membersihkan luka seorang laki-laki yang kakinya terluka dalam kecelakaan pabrik, memberikan air minum kepada seorang nenek dengan demam tinggi, dan mendengarkan cerita seorang ibu yang khawatir tentang anaknya di kota yang lebih besar. Tidak ada yang dramatis, tetapi setiap tindakan terasa penting. Di perjalanan pulang, dia melewati pasar dan membeli buah pepaya untuk ayahnya. Dia membayangkan dirinya dalam beberapa tahun ke depan—mungkin bekerja di rumah sakit yang lebih besar, mungkin mengajar perawat muda, mungkin—jika ayahnya setuju—menikah dengan seorang laki-laki baik yang menghormati pekerjaannya. Dia tidak terburu-buru. Waktu masih panjang di depan. Dunia terasa terbuka.

Budi menghabiskan hari pertamanya di Karangbaya dengan berjalan-jalan dan merasakan tekstur kota itu. Dia pergi ke percetakan dan bertemu dengan Pak Saiful, teman ayahnya. Pak Saiful adalah laki-laki berusia lima puluh tahun dengan kumis yang tebal dan mata yang berkilau. 'Baik, nak,' katanya setelah membaca surat pengantar, 'kami bisa gunakan tangan yang kuat. Mulai minggu depan. Upah tiga puluh rupiah sehari untuk awal.' Tiga puluh rupiah per hari berarti Budi bisa sewa kamar kecil di belakang rumah Ibu Mina dan masih punya sisa untuk dikirim kepada ibunya. Dia berdiri di depan mesin-mesin cetak yang besar, mendengarkan ketukan mereka yang teratur, dan merasa dirinya bergerak maju. Malam itu dia makan nasi kuning di warung Ibu Mina. Ibu Mina memberinya porsi besar. 'Kamu orang baru,' katanya, 'perlu tenaga.'