Siti mendengar dentuman pertama di tengah tidurnya yang gelisah. Suara itu tidak seperti kembang api Hari Kemerdekaan dua minggu sebelumnya; itu adalah ledakan yang menggetar dinding rumah, membuat debu dari celah tembok berjatuhan di atas kasur. Ibunya berteriak dari kamar sebelah. Siti melompat keluar dari tempat tidur tanpa alas kaki, menginjak lantai ubin yang dingin dan licin. Di jendela, langit masih gelap, tetapi cahaya oranye sesaat membersit dari arah barat, di mana pos militer Belanda berdiri. Dia tidak pernah berpikir bahwa perang bukan hanya kata yang diucapkan di tepi jalan atau dalam pamflet yang tergeletak di pasar. Perang adalah ini—udara yang tercemar bau dupa yang terbakar, jantung yang berdetak seperti drum gendang, dan wajah ibunya yang pucat, yang tiba-tiba terlihat jauh lebih tua daripada semalam. Ayahnya sudah pergi seminggu lalu untuk "bergabung dengan gerakan", itulah satu-satunya penjelasan yang didapat. Ibu mengatakan kepada saudara-saudara Siti untuk mengemas sesuatu yang penting. Hanya sesuatu. Tidak bisa banyak. Siti memandang sekeliling kamar—boneka kain yang dibuat kakeknya, buku catatan berisi puisi yang mulai ditulis, gaun batik yang dikenakan saat penikahan sepupu, surat-surat dari teman sekolah. Bagaimana cara memilih? Bagaimana cara mengetahui apa yang akan dimati jika peninggalkannya? Ibunya datang, menarik lengannya dengan tangan yang gemetar. "Bawa yang menyimpan jiwa," katanya, tetapi Siti tidak tahu apa artinya itu. Dia menggengam boneka kakeknya dan mengikuti keluarganya keluar dari rumah yang pernah dianggap sebagai dunia seluruhnya.
Untuk Rakhmat, benturan pertama datang dalam bentuk seorang kapten muda yang memukuli bahunya dengan keras dan berkata bahwa dia telah diterima dalam kelompok perlawanan di bawah komando Gatot Subroto. Rakhmat adalah penjual ikan di pasar Juwet selama lima tahun, dan tiba-tiba dia seorang prajurit—atau begitulah kata kapten itu, meskipun Rakhmat tidak memiliki seragam sebenarnya, hanya celana pendek dan sebuah sabuk yang menopang bedil tua warisan neneknya. Dia berusia tiga puluh dua tahun, terlalu tua untuk merasa seperti anak lelaki dalam keadaan baru ini, tetapi juga terlalu muda untuk berhenti ingin membuktikan sesuatu. Isterinyanya menangis saat dia meninggalkan rumah, memegang lengan bajunya sambil berulang kali mengatakan bahwa anak mereka baru saja lahir tiga bulan lalu. Rakhmat tidak bisa melihat matanya saat berangkat ke hutan timur. Dia tahu bahwa jika dia berhenti untuk memeluk istri dan bayinya yang masih berbau seperti susu, dia tidak akan punya keberanian untuk pergi. Keberanian adalah abstraksi yang mudah sampai kamu harus meninggalkan hal-hal nyata—berat bayi di lenganmu, kehangatan istri yang tertidur. Di kem pertama, Rakhmat belajar bahwa setengah dari anggota kelompoknya adalah petani yang pernah membaca manifesto di dinding sekolah, dan setengah lainnya seperti dirinya: pria yang tidak tahu mengapa mereka ada di sini kecuali karena takut tidak ada di sini. Seorang komandan tua bernama Pak Hasan mengatakan kepada mereka bahwa mereka sekarang adalah tulang punggung kemerdekaan, dan Rakhmat merasakan kombinasi aneh antara kebanggaan dan ketidakpercayaan. Merah jambu dan ketakutan bercampur dalam perutnya seperti minyak dan air, tidak pernah benar-benar bersatu.
Anisa berada di sekolah guru ketika guru bahasa Jawa-nya, Pak Harjo, tiba dengan wajah yang berubah warna. "Tidak ada sekolah lagi," katanya dengan tenang yang mencurigakan. "Pergi pulang. Tetap di dekat keluarga kalian." Anisa berusia dua puluh satu tahun dan telah bermimpi menjadi guru selama tujuh tahun terakhir. Sekolah guru adalah tempat di mana dia bisa membayangkan hidupnya: memakai gaun putih dan biru pada hari Senin, menulis kata-kata di papan tulis untuk anak-anak kecil yang belum mengenal dunia yang keras, pulang ke rumah dengan perasaan bahwa dia telah membuat perbedaan kecil yang mulia. Sekarang mimpi itu telah dibatalkan dalam satu kalimat. Dia pulang dengan buku-buku masih dalam ransel, masih memegang kapur putih yang terselip di kantong. Di rumah, orang tuanya sedang membungkus piring—hal-hal yang sama sekali tidak diperlukan untuk membawa ke penggungsian yang akan datang, tetapi orang-orang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal saat merasa takut. Ayahnya adalah pejabat pemerintah daerah, yang berarti keluarganya berada di daftar. Daftar untuk dipindahkan, atau lebih buruk lagi, daftar untuk dideportasi kembali ke Jawa untuk "perlindungan". Anisa mendengar kedua orang tuanya berdiskusi dengan nada rendah tentang apakah mereka harus mendukung kemerdekaan atau tetap netral. Tidak ada pilihan yang terasa aman. Setiap pilihan seperti bermain dengan api dalam ruangan yang penuh bensin.
Hendro, bekerja sebagai tukang las di gudang pelabuhan, menerima kabar kehilangan pertama saat pagi hari ketika seorang tetangga, Pak Dwi, datang dengan kulit yang luka terbakar dan berita bahwa tangan kiri Adi—anak berusia sembilan belas tahun yang bekerja di sebelah Hendro di bengkel—telah hilang dalam ledakan pipa uap yang disebabkan oleh tembakan sesat. Tidak ada rumah sakit yang bisa mengobati—semua tenaga medis telah diorganisir oleh pihak berwenang untuk melayani tentara. Adi berhasil bertahan selama dua hari dengan demam yang tinggi sebelum akhirnya tidak. Hendro pergi ke rumah keluarga Adi dan duduk di sudut ruang tamu, menonton ibu Adi menggosok kain putih yang tidak perlu digosok, melakukan gerakan yang sama berulang kali, seolah-olah kesibukan bisa mencegah kenyataan dari menetap. Ini adalah keputusan Hendro—dia yang memberi tahu Adi untuk membantu menghubungkan pipa baru itu. Dia yang mengatakan itu akan cepat, mudah, tidak ada risiko. Dia yang keliru. Anggota kelompok perlawanan lokal datang pada malam hari dan memberitahu Hendro bahwa mereka membutuhkan keahliannya untuk membuat perangkat. Perangkat yang bisa membuat kerusakan. Perangkat yang bisa membunuh. Mereka mengatakan ini adalah untuk kemerdekaan, untuk membalas dendam untuk semua yang sudah hilang. Hendro ingin menolak, tetapi bagaimana cara menolak ketika kamu sudah bersalah? Bagaimana cara mengatakan tidak ketika rasa bersalah telah membuat jantungmu menjadi berat seperti batu? Dia berkata ya. Dia berkata ya untuk salah satu alasan terburuk untuk menerima perang: karena dia sudah percaya bahwa dia layak menerima hukuman, dan tindakan kekerasan adalah satu-satunya cara untuk memulai memaafkan diri sendiri.
Tiga minggu setelah hari pertama ledakan, keempat orang ini belum bertemu. Mereka berada di empat sudut kota yang berubah menjadi labirin jalan-jalan yang sudah diketahui tetapi sekarang asing. Pos-pos pemeriksaan berdiri di setiap persimpangan. Suara tembakan dan dentuman telah menjadi bagian dari ritme sehari-hari—pagi dimulai dengan senyuman palsu orang tua saat membangunkan anak-anak, siang hari adalah waktu ketika Anda mengantre untuk sesuatu yang mungkin tidak akan sampai, dan malam hari adalah ketika Anda berbaring di tempat gelap dan mendengarkan keduanya—keheningan dan suara-suara yang datang dalam gelap. Siti berada di penampungan untuk pengungsi sipil yang dijalankan oleh seorang pendeta tua di gereja Katolik. Dia telah membantu merawat anak-anak yang lebih muda dan orang tua yang syok, memberikan air minum, mendengarkan cerita-cerita yang tidak lengkap tentang kehilangan. Rakhmat sedang di hutan dengan selang tabung yang belum diisi, menunggu perintah yang mungkin tidak akan datang. Anisa tersembunyi di rumah sepupu di pinggiran kota, membantu menyiapkan makanan untuk jaringan bawah tanah yang diam-diam mendukung gerilya dengan informasi dan sumber daya. Dan Hendro berada di ruang bawah tanah gudang yang ditinggalkan, mengonstruksi mesin kesedihan dengan tangan-tangan yang bergetar, mendengarkan tawa muda yang tidak mengerti apa yang sedang dia bangun untuk mereka. Belum ada yang tahu bahwa dalam dua minggu ke depan, jalur kehidupan mereka akan bersilangan di sebuah gerobak yang rusak di sebuah jalanan kecil ketika perintah dan kebetulan membawa mereka semua ke tempat yang sama. Dan di sana, tanpa disadari mereka, empati pertama mereka untuk musuh akan dimulai—bukan karena mereka ingin, tetapi karena perang sangat mendesak mereka ke dalam lubang yang sama sehingga satu-satunya cara untuk tetap manusia adalah saling melihat dan mengingat bahwa setiap orang sedang mati, hanya dalam kecepatan yang berbeda.
