Bagian 1

Pintu di Balik Pohon Tua

Pohon itu sudah ada sebelum kakek buyut mereka lahir. Batangnya selebar lima pelukan orang dewasa, dan kulit kayu coklatnya berlipat-lipat seperti peta yang terlipat terlalu banyak kali. Bima, yang berusia dua belas tahun, sudah ratusan kali bermain di sekitarnya. Tapi malam itu — saat langit berubah warna jeruk bakar dan angin berbisik dalam bahasa yang tidak ia kenal — pohon itu terasa berbeda.

"Kak, lihat," bisik Laras, adiknya yang berusia sembilan tahun. Jari kecilnya menunjuk ke celah antara dua akar besar yang mencuat dari tanah. Di sana, samar-samar, ada sesuatu yang berkilat seperti logam tua — sebuah engsel pintu yang berkarat, tertempel pada sesuatu yang tampak seperti kayu yang tumbuh dari dalam pohon itu sendiri.

Bima mendorong perlahan. Kayunya berderak seperti keluhan panjang makhluk yang terlalu lama tidur — lalu terbuka, menampakkan sebuah terowongan cahaya hijau yang tidak berujung. Aroma tanah basah dan bunga yang belum pernah ia cium sebelumnya menyambut mereka. Sebelum Bima sempat berkata apa-apa, Laras sudah selangkah masuk.

Dan di belakang mereka, dengan suara seperti buku yang ditutup, pintu itu menutup sendiri.