Rimba itu tidak seperti hutan mana pun yang pernah mereka bayangkan. Pohon-pohonnya tumbuh terbalik — akarnya menjulang ke langit seperti jari-jari raksasa yang mencengkeram awan, sementara dedaunannya menyentuh tanah dan berbisik-bisik setiap kali kaki mereka melangkah. Cahayanya berwarna hijau muda, seolah seluruh dunia ini adalah kamar tidur yang diterangi lampu yang sangat, sangat tua.
"Kalian tersesat," kata suara yang datang dari mana-mana sekaligus. Bima dan Laras berputar. Di atas batu besar berlumut, seekor naga sepanjang sepuluh meter berbaring santai seperti kucing yang berjemur. Sisiknya berwarna hijau tua, matanya kuning seperti bulan purnama, dan dari lubang hidungnya mengepul asap yang berbau melati.
"Tunjukkan jalannya kepada kami," kata Laras, suaranya tidak gemetar meskipun tangannya mencengkeram lengan Bima erat-erat.
Naga Hijau tersenyum — dan gigi-giginya berkilat seperti bintang. "Saya akan tunjukkan. Tapi dulu, ceritakan padaku: apa satu hal paling berharga yang kalian bawa dari dunia kalian?" Bima dan Laras saling berpandangan. Di saku Bima ada foto ibu mereka. Di tangan Laras ada batu kerikil berbentuk hati yang dipungutnya dari sungai. Keduanya menjawab serentak — karena kadang-kadang, jawaban yang paling jujur sudah tersimpan di hati jauh sebelum pertanyaan itu ada.